Softselling vs Hardselling, Lebih Baik Mana?

Tips Marketing

November 24, 2023

Hanna Khairunnisa

Dalam dunia pemasaran, ada dua pendekatan utama yang sering digunakan untuk menjual produk atau layanan: soft selling dan hard selling. Kedua pendekatan ini memiliki strategi yang berbeda dalam menjangkau konsumen dan mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Namun, pertanyaannya adalah, manakah di antara keduanya yang lebih efektif?

Pada artikel ini, Delegasi akan menjelaskan secara detail kedua pendekatan dalam menjual produk Anda.

Soft Selling

Soft selling merupakan pendekatan yang lebih subtil dalam menjual produk atau layanan. Fokus utamanya adalah membangun hubungan yang kuat dengan calon konsumen. Strategi ini tidak terlalu agresif dalam melakukan penjualan dan lebih menekankan pada pendekatan yang lebih manusiawi. Beberapa ciri dari soft selling meliputi.

1. Pendekatan Berbasis Edukasi

Menawarkan informasi yang berguna kepada konsumen tanpa menekankan penjualan langsung. Ini bisa melalui konten edukatif, seperti artikel blog, video tutorial, atau webinar, yang membantu konsumen untuk memahami manfaat produk atau layanan.

2. Fokus pada Kepuasan Pelanggan

Soft selling cenderung lebih berorientasi pada memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan. Mereka lebih fokus pada memberikan solusi daripada hanya menjual produk atau layanan.

3. Menggunakan Pendekatan yang Lebih Personal

Berinteraksi dengan konsumen secara pribadi, mendengarkan masalah mereka, dan menawarkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Hardselling

Di sisi lain, hardselling adalah pendekatan yang lebih agresif dalam menjual. Strategi ini lebih menekankan pada penjualan langsung dan penggunaan tekanan untuk mendorong konsumen agar segera membeli. Beberapa ciri dari hardselling meliputi.

1. Pendekatan yang Keras dan Langsung

Fokus utamanya adalah membuat penawaran yang sulit ditolak dan menekankan kebutuhan untuk segera membeli.

2. Penekanan pada Fitur dan Keunggulan Produk

Lebih menonjolkan fitur dan keunggulan produk atau layanan tanpa terlalu banyak mempertimbangkan kebutuhan spesifik konsumen.

3. Tujuan Utama adalah Penjualan

Mengabaikan interaksi pribadi atau memahami kebutuhan pelanggan dengan fokus utama pada penjualan produk.

Mana yang Lebih Baik?

Pilihan antara soft selling dan hard selling tergantung pada jenis produk atau layanan yang dijual, pasar target, dan nilai jangka panjang dari hubungan dengan pelanggan. Sebagai contoh, dalam bisnis yang berfokus pada produk-produk yang memerlukan pemahaman mendalam atau kesadaran akan kebutuhan pelanggan, pendekatan soft selling mungkin lebih efektif. Sementara itu, dalam industri seperti penjualan eceran atau promosi jangka pendek, hardselling mungkin memberikan hasil yang lebih cepat.

Namun, banyak ahli pemasaran percaya bahwa pendekatan yang paling efektif adalah yang menggabungkan elemen dari kedua pendekatan tersebut. Menghadirkan keseimbangan antara membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan (soft selling) dan menunjukkan nilai produk dengan tegas (hardselling) dapat menjadi strategi yang lebih berhasil dalam jangka panjang.

Dalam hal ini, tidak ada pendekatan yang benar-benar lebih baik daripada yang lain. Kedua pendekatan memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan pilihan tergantung pada strategi pemasaran yang tepat untuk situasi tertentu.

FAQ

Apa perbedaan antara kwitansi dan invoice?

Kwitansi adalah dokumen yang menyatakan rekaman transaksi jual-beli sementara invoice merupakan dokumen tagihan pembayaran yang dibuat oleh penjual untuk pembeli. Kwitansi diberikan ketika pembeli sudah melunasi pembayaran sedangkan invoice diberikan ketika pembeli belum melakukan pembayaran.

Apakah nomor invoice penting?

Nomor invoice adalah bagian yang penting. Nomor ini terdiri dari sekumpulan angka unik sesuai dengan ketentuan perusahaan penerbit sesuai dengan urutan transaksi. Nomor invoice sangat berguna ketika kamu ingin melakukan pelacakan pembelian atau penjualan.

Siapa yang menerbitkan invoice?

Invoice diterbitkan oleh pihak yang menyediakan jasa atau barang. Dengan kata lain, invoice dibuat oleh penjual kemudian diserahkan kepada pembeli.

Kapan invoice dibuat?

Invoice dibuat oleh penjual sebagai dokumen tagihan. Oleh karena itu, invoice dibuat sebelum pembeli melakukan pembayaran. Invoice juga harus dibuat sebelum pembeli mengirim barang atau menyediakan jasa yang dibeli.